Kabupaten Solok Pekat News.com— Proyek normalisasi sungai yang dikerjakan oleh PT Adhi Karya (Persero) Tbk di wilayah Kabupaten Solok menuai sorotan tajam. Pekerjaan yang semestinya menjadi solusi pengendalian banjir dan perlindungan kawasan permukiman itu kini justru terkesan terbengkalai, memicu keresahan warga.
Di sejumlah titik proyek, aktivitas terlihat berhenti. Alat berat tidak lagi beroperasi, material proyek tergeletak tanpa pengawasan memadai, sementara kondisi sungai belum menunjukkan penanganan yang signifikan. Warga menilai, proyek yang dibiayai negara tersebut seolah kehilangan arah tanpa kepastian kelanjutan.
Alasan yang mencuat ke publik adalah belum turunnya anggaran dari pemerintah pusat. Namun dalih tersebut dinilai tidak cukup kuat untuk membenarkan terhentinya pekerjaan dalam waktu yang tidak jelas. Apalagi, proyek ini menyangkut kepentingan publik yang mendesak, terutama dalam menghadapi potensi banjir saat musim hujan.

“Kalau memang anggaran belum turun, kenapa proyek sudah berjalan sejak awal? Ini yang menjadi pertanyaan besar,” ujar salah seorang warga setempat dengan nada kecewa.
Penghentian pekerjaan tanpa kejelasan tidak hanya berdampak pada perlambatan pembangunan, tetapi juga berpotensi menimbulkan kerugian negara. Selain itu, kondisi proyek yang setengah jadi justru berisiko memperparah kerusakan lingkungan, termasuk abrasi bantaran sungai dan sedimentasi yang tidak tertangani.
Sejumlah pihak mendesak pemerintah pusat maupun daerah untuk segera memberikan penjelasan terbuka. Transparansi dinilai penting guna menghindari spekulasi publik terkait dugaan lemahnya perencanaan atau bahkan potensi maladministrasi dalam proyek tersebut.
Sebagai perusahaan pelat merah yang memiliki rekam jejak panjang dalam proyek infrastruktur nasional, PT Adhi Karya diharapkan tidak lepas tangan. Publik menuntut komitmen nyata untuk menyelesaikan proyek sesuai rencana, bukan justru meninggalkan pekerjaan di tengah jalan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi yang komprehensif dari pihak kontraktor maupun instansi terkait mengenai kapan proyek akan kembali dilanjutkan.

Sementara itu, masyarakat di Kabupaten Solok hanya bisa menunggu dengan kekhawatiran yang terus meningkat—akankah proyek ini benar-benar dilanjutkan, atau justru menjadi satu lagi contoh pekerjaan mangkrak yang tak terselesaikan? ( Masrizal)